Friday, 12 February 2016

Batam Waspada Virus Zika

batam - Belum beres masalah Demam Berdarah Dengue (DBD), Batam sudah mulai mewaspadai masuknya virus zika. Virus yang tak kalah mematikan ini dikhawatirkan akan dibawa masuk ke Batam oleh para turis mancanegara, terutama dari Tiongkok.

�Baru-baru ini ada temuan (kasus zika) di China. Kita harus waspada karena mereka juga sering berkunjung ke sini (Batam, red),� kata Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Penyebaran Lingkungan (P3PL) Dinkes Batam, Sri Rupiati, Rabu (10/2).

Untuk itu, kata Rupiati, Dinas Kesehatan Kota Batam mengimbau Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang tersebar di pelabuhan di Batam melakukan cegah tangkal terhadap penyebara virus zika. Sebab Batam merupakan salah satu gerbang masuknya wisatawan mancanegara. Sehingga potensi penyebaran virus zika di Batam cukup tinggi.

Rupiati mengingatkan agar petugas KKP memperketat pengawasan terhadap turis mancanegara yang masuk melalui pelabuhan. KKP bisa mengaktifkan suveler atau pengamat penyakit, menyiapakan tim efektif, dan mempersiapkan obat-obatan serta sarana dan prasarana pencegahan lainnya.

"Sebelum masuk, semua harus melalui scan suhu badan. Jika suhunya menunjukakan 39 derajat, itu wajib diperiksa dan dikarantina." jelasnya.

Menurut dia, suspect atau orang yang diduga terjangkit virus, termasuk virus zika, sepenuhnya menjadi tanggung jawab KKP selama mereka masih belum keluar dari pelabuhan. Namun apabila suspect telah keluar dari pelabuhan, itu baru menjadi tanggung jawab Dinkes Batam.

"Radius 3 kilometer itu menjadi tanggung jawab kami. Kalau ditemukan kita akan segera rujuk ke rumah sakit rujukan seperti RSBP atau RSUD," ujarnya lagi.

Kepala KKP Kelas 1 Batam, dr Femmy Bawole Kawangun M.M mengaku pihaknya sudah mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap masuknya virus zika ke Batam.

"Ini instruksi dari pusat (Kemenkes, red)," kata Femmy, tadi malam.

Femmy menjelaskan, pemeriksaan dilakukan terutama kepada turis yang berasal dari negara-negara yang terjangkit virus zika. Khususnya negara-negara Amerika Latin.

"Kalau kasus yang di China itu saya baru dengar," katanya.

Namun Femmy mengakui, pengawasan terhadap suspect virus zika tidak gampang. Karena penderita virus ini mengalami gejala yang sama dengan gejala DBD. Yakni demam.

Namun sejauh ini, kata dia, belum ditemukan suspect virus zika di Batam. Meski begitu, pihaknya akan terus meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan cegah tangkal.

Seperti dukutip di laman depkes.go.id pada Senin (1/2) lalu, virus zika merupakan jenis Flavivirus yang tergolong familia Flaviviridae. Genus ini meliputi virus Nil Barat, virus demam berdarah, dan virus demam kuning.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Oscar Primadi dalam keterangan tertulisnya menegaskan pihaknya hingga saat ini belum pernah memperoleh laporan hasil konfirmasi virus Zika telah beredar di Indonesia.

Saat ini konfirmasi pemeriksaan virus Zika hanya bisa dilakukan di laboratiorium tertentu, yaitu Balitbangkes Kemenkes dan Lembaga Biomolekuler Eijkman.

Penularan virus Zika melalui gigitan nyamuk Aedes, dapat dalam jenis Aedes Aegypti untuk daerah tropis, Aedes Africanus di Afrika, dan juga Aedes Albopictus pada beberapa daerah lain. Nyamuk Aedes merupakan jenis nyamuk yang aktif di siang hari, dan dapat hidup di dalam maupun luar ruangan. Virus ini juga bisa ditularkan oleh ibu hamil kepada janinnya selama masa kehamilan.

Siapapun yang tinggal atau mengunjungi area yang terdapat virus zika memiliki risiko untuk terinfeksi, termasuk ibu hamil. Virus ini sekarang merebak di Amerika Selatan dan Amerika Latin. Namun, bukan berarti daerah lain aman dari penyebaran virus ini.

Beberapa negara yang pernah melaporkan keberadaan kasus penyait virus zika adalah Barbados, Bolivia, Brasil, Cap Verde, Colombia, Dominican Republic, Ecuador, El Salvador, French Guiana, Guadeloupe, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Martinique, Mexico, Panama, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Suriname, dan Venezuela.

Sementara Analis Kesehatan Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam,  dr Willy A.I Wullur, Sp.PK, M.Min mengatakan, virus zika mulai menyebar di benua Amerika pada akhir 2015. Umumnya, penderita virus zika mengalami gejala yang sama dengan penderita DBD. Seperti demam, lemas, serta nyeri pada otot dan sendi.

"Tapi virus zika berbeda dengan DBD," kata Willy.

Tidak seperti DBD, zika tak menyebabkan komplikasi fatal pada penderita dewasa dan anak-anak. Zika justru berbahaya bagi janin. "Contohnya di Brasil, ditemukan ratusan kasus kelahiran bayi dengan otak mengecil (microcephaly) setelah sang ibu terinfeksi virus itu," ungkap Willy.

Perbedaan lainnya, demam pada pengidap zika tidak terlalu tinggi sebagaimana yang dialami penderita DBD. Infeksi virus zika tidak menunjukkan penurunan kadar trombosit sebagaimana halnya penderita DBD. Penderita DBD bisa mengalami mimisan, kulit nampak bintik-bintik merah bahkan bisa muntah darah, sedangkan penderita viruz zika tidak.

Menurut saya, DBD lebih berbahaya daripada virus zika," kata Willy.

Namun cara pencegahan DBD dan virus zika ini sama, seperti melakukan 4M (menguras, menutup, mengubur dan memantau lingkungan). "Maka dari itu, sebelum terjangkit kedua virus ini sebaiknya kita selalu menjaga bersih lingkungan rumah dan kesehatan kita," kata Willy


EmoticonEmoticon